Pada suatu sore ketika Abu Nawas ke warung teh kawan-kawannya sudah
berada di situ. Mereka memang sengaja sedang menunggu Abu Nawas.
"Nah ini Abu Nawas datang." kata salah seorang dari mereka.
"Ada apa?" kata Abu Nawas sambil memesan secangkir teh hangat.
"Kami tahu engkau selalu bisa melepaskan diri dari perangkap-perangkap
yang dirancang Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tetapi kami yakin kali ini
engkau pasti dihukum Baginda Raja bila engkau berani melakukannya.",
kawan-kawan Abu Nawas membuka percakapan.
"Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakuti kecuali kepada Allah SWT." kata Abu Nawas menentang.
"Selama ini belum pernah ada seorang pun di negeri ini yang berani
memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukankah begitu hai Abu Nawas?"
tanya kawan Abu Nawas.
"Tentu saja tidak ada yang berani melakukan hal itu karena itu adalah
pelecehan yang amat berat hukumannya pasti dipancung." kata Abu Nawas
memberitahu.
"Itulah yang ingin kami ketahui darimu. Beranikah engkau melakukannya?"
"Sudah kukatakan bahwa aku hanya takut kepada Allah SWT saja. Sekarang
apa taruhannya bila aku bersedia melakukannya?" Abu Nawas ganti
bertanya.
"Seratus keping uang emas. Disamping itu Baginda harus tertawa tatkala engkau pantati." kata mereka.
Abu Nawas pulang setelah menyanggupi tawaran yang amat berbahaya itu.
Kawan-kawan Abu Nawas tidak yakin Abu Nawas sanggup membuat Baginda Raja
tertawa apalagi ketika dipantati. Kayaknya kali ini Abu Nawas harus
berhadapan dengan algojo pemenggal kepala.
Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan mengadakan jamuan
kenegaraan. Para menteri, pegawai istana dan orang-orang dekat Baginda
diundang, termasuk Abu Nawas. Abu Nawas merasa hari-hari berlalu dengan
cepat karena ia harus menciptakan jalan keluar yang paling aman bagi
keselamatan lehernya dari pedang algojo. Tetapi bagi kawan-kawan Abu
Nawas hari-hari terasa amat panjang karena mereka tak sabar menunggu
pertaruhan yang amat mendebarkan itu.
Persiapan-persiapan di halaman istana sudah dimulai. Baginda Raja
menginginkan perjamuan nanti meriah karena Baginda juga mengundang
raja-raja dari negeri sahabat. Ketika hari yang dijanjikan tiba, semua
tamu sudah datang kecuali Abu Nawas. Kawan-kawan Abu Nawas yang
menyaksikan dari jauh merasa kecewa karena Abu Nawas tidak hadir. Namun
ternyata mereka keliru. Abu Nawas bukannya tidak datang tetapi terlambat
sehingga Abu Nawas duduk di tempat yang paling belakang.
Ceramah-ceramah yang mengesankan mulai disampaikan oleh para ahli
pidato. Dan tibalah giliran Baginda Raja Harun Al Rasyid menyampaikan
pidatonya.
Seusai menyampaikan pidato Baginda melihat Abu Nawas duduk sendirian di
tempat yang tidak ada karpetnya. Karena merasa heran Baginda bertanya,
"Mengapa engkau tidak duduk di atas karpet?"
"Paduka yang mulia, hamba haturkan terima kasih atas perhatian Baginda.
Hamba sudah merasa cukup bahagia duduk di sini." kata Abu Nawas.
"Wahai Abu Nawas, majulah dan duduklah di atas karpet nanti pakaianmu
kotor karena duduk di atas tanah." Baginda Raja menyarankan.
"Ampun Tuanku yang mulia, sebenarnya hamba ini sudah duduk di atas
karpet." Baginda bingung mendengar pengakuan Abu Nawas. Karena Baginda
melihat sendiri Abu Nawas duduk di atas lantai.
"Karpet yang mana yang engkau maksudkan wahai Abu Nawas?" tanya Baginda masih bingung.
"Karpet hamba sendiri Tuanku yang mulia. Sekarang hamba selalu membawa
karpet ke manapun hamba pergi." Kata Abu Nawas seolah-olah menyimpan
misteri.
"Tetapi sejak tadi aku belum melihat karpet yang engkau bawa." kata
Baginda Raja bertambah bingung. "Baiklah Baginda yang mulia, kalau
memang ingin tahu maka dengan senang hati hamba akan menunjukkan kepada
Paduka yang mulia." kata Abu Nawas sambil beringsut-ringsut ke depan.
Setelah cukup dekat dengan Baginda, Abu Nawas berdiri kemudian
menungging menunjukkan potongan karpet yang ditempelkan di bagian
pantatnya. Abu Nawas kini seolah-olah memantati Baginda Raja Harun Al
Rasyid. Melihat ada sepotong karpet menempel di pantat Abu Nawas,
Baginda Raja tak bisa membendung tawa sehingga beliau terpingkal-pingkal
diikuti oleh para undangan. Sebaliknya teman-terpan Abu Nawas merasa
heran, kok bisa-bisanya Baginda malah tertawa saat dipantati Abu Nawas.
Mestinya Raja menjadi marah, eh kok malah tertawa. Menyaksikan kejadian
yang menggelikan itu kawan-kawan Abu Nawas merasa kagum. Abu Nawas
memang hebat dan brilian, dalam posisi sesulit apapun masih bisa mencari
solusi. Akhirnya mereka harus rela melepas seratus keping uang emas
untuk Abu Nawas.
Senin, 13 Agustus 2012
Kisah Abu nawas: Abu nawas mati/meninggal dunia
"Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi mencarimu."
"Ya istriku, ini urusan gawat. Aku baru saja menjual Sultan Harun Al Rasyid menjadi budak."
"Apa?"
"Raja kujadikan budak!"
"Kenapa kau lakukan itu suamiku."
"Supaya dia tahu di negerinya ada praktek jual beli budak. Dan jadi budak itu sengsara."
"Sebenarnya maksudmu baik, tapi Baginda pasti marah. Buktinya para prajurit diperintahkan
untuk menangkapmu."
"Menurutmu apa yang akan dilakukan Sultan Harun Al Rasyid kepadaku."
"Pasti kau akan dihukum berat."
"Gawat, aku akan mengerahkan ilmu yang kusimpan,"
Abu Nawas masuk ke dalam, ia mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat dua rakaat. Lalu berpesan kepada istrinya apa yang harus dikatakan bila Baginda datang.
Tidak berapa alama kemudian tetangga Abu Nawas geger, karena istri Abu Nawas menjerit-jerit.
"Ada apa?" tanya tetangga Abu Nawas sambil tergopoh-gopoh.
"Huuuuuu .... suamiku mati....!"
"Hah! Abu Nawas mati?"
"lyaaaa....!"
Kini kabar kematian Abu Nawas tersebar ke seluruh pelosok negeri. Baginda terkejut. Kemarahan dan kegeraman beliau agak susut mengingat Abu Nawas adalah orang yang paling pintar menyenangkan dan menghibur Baginda Raja.
Baginda Raja beserta beberapa pengawai beserta seorang tabib (dokter) istana, segera menuju rumah Abu Nawas. Tabib segera memeriksa Abu Nawas. Sesaat kemudian ia memberi laporan kepada Baginda bahwa Abu Nawas memang telah mati beberapa jam yang lalu.
Setelah melihat sendiri tubuh Abu Nawas terbujur kaku tak berdaya, Baginda Raja marasa terharu dan meneteskan air mata. Beliau bertanya kepada istri Abu Nawas.
"Adakah pesan terakhir Abu Nawas untukku?"
"Ada Paduka yang mulia." kata istri Abu Nawas sambil menangis.
"Katakanlah." kata Baginda Raja.
"Suami hamba, Abu Nawas, memohon sudilah kiranya Baginda Raja mengampuni semua kesalahannya dunia akhirat di depan rakyat." kata istri Abu Nawas terbata-bata.
"Baiklah kalau itu permintaan Abu Nawas." kata Baginda Raja menyanggupi.
Jenazah Abu Nawas diusung di atas keranda. Kemudian Baginda Raja mengumpulkan rakyatnya di tanah lapang. Beliau berkata, "Wahai rakyatku, dengarkanlah bahwa hari ini aku, Sultan Harun Al Rasyid telah memaafkan segala kesalahan Abu Nawas yang telah diperbuat terhadap diriku dari dunia hingga akhirat. Dan kalianlah sebagai saksinya."
Tiba-tiba dari dalam keranda yang terbungkus kain hijau terdengar suara keras, "Syukuuuuuuuur ...... !"
Seketika pengusung jenazah ketakukan, apalagi melihat Abu Nawas bangkit berdiri seperti mayat hidup. Seketika rakyat yang berkumpul lari tunggang langgang, bertubrukan dan banyak yang jatuh terkilir. Abu Nawas sendiri segera berjalan ke hadapan Baginda. Pakaiannya yang putih-putih bikin Baginda keder
juga.
"Kau... kau.... sebenarnya mayat hidup atau memang kau hidup lagi?" tanya Baginda dengan gemetar.
"Hamba masih hidup Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengampunan Tuanku."
"Jadi kau masih hidup?"
"Ya, Baginda. Segar bugar, buktinya kini hamba merasa lapar dan ingin segera pulang."
"Kurang ajar! Ilmu apa yang kau pakai Abu Nawas?
"Ilmu dari mahaguru sufi guru hamba yang sudah meninggal dunia..."
"Ajarkan ilmu itu kepadaku..."
"Tidak mungkin Baginda. Hanya guru hamba yang mampu melakukannya. Hamba tidak bisa mengajarkannya sendiri."
"Dasar pelit !" Baginda menggerutu kecewa.
Minggu, 12 Agustus 2012
Kisah Wali Allah Yang Sholat Diatas Air
Sebuah kapal yang sarat dengan muatan dan bersama 200 orang temasuk
ahli perniagaan berlepas dari sebuah pelabuhan di Mesir. Apabila kapal
itu berada di tengah lautan maka datanglah ribut petir dengan ombak yang
kuat membuat kapal itu terumbang-ambing dan hampir tenggelam. Berbagai
usaha dibuat untuk mengelakkan kapal itu dipukul ombak ribut, namun
semua usaha mereka sia-sia sahaja. Kesemua orang yang berada di atas
kapal itu sangat cemas dan menunggu apa yang akan terjadi pada kapal dan
diri mereka.
Ketika semua orang berada dalam keadaan cemas, terdapat seorang
lelaki yang sedikitpun tidak merasa cemas. Dia kelihatan tenang sambil
berzikir kepada Allah S.W.T. Kemudian lelaki itu turun dari kapal yang
sedang terunbang-ambing dan berjalanlah dia di atas air dan mengerjakan
solat di atas air.
Beberapa orang peniaga yang bersama-sama dia dalam kapal itu
melihat lelaki yang berjalan di atas air dan dia berkata, "Wahai wali
Allah, tolonglah kami. Janganlah tinggalkan kami!" Lelaki itu tidak
memandang ke arah orang yang memanggilnya. Para peniaga itu memanggil
lagi, "Wahai wali Allah, tolonglah kami. Jangan tinggalkan kami!"
Kemudian lelaki itu menoleh ke arah orang yang memanggilnya dengan
berkata, "Apa hal?" Seolah-olah lelaki itu tidak mengetahui apa-apa.
Peniaga itu berkata, "Wahai wali Allah, tidakkah kamu hendak mengambil
berat tentang kapal yang hampir tenggelam ini?"
Wali itu berkata, "Dekatkan dirimu kepada Allah."
Para penumpang itu berkata, "Apa yang mesti kami buat?"
Wali Allah itu berkata, "Tinggalkan semua hartamu, jiwamu akan selamat."
Kesemua mereka sanggup meninggalkan harta mereka. Asalkan jiwa
mereka selamat. Kemudian mereka berkata, "Wahai wali Allah, kami akan
membuang semua harta kami asalkan jiwa kami semua selamat."
Wali Allah itu berkata lagi, "Turunlah kamu semua ke atas air dengan membaca Bismillah."
Dengan membaca Bismillah, maka turunlah seorang demi seorang ke
atas air dan berjalan meng hampiri wali Allah yang sedang duduk di atas
air sambil berzikir. Tidak berapa lama kemudian, kapal yang mengandungi
muatan beratus ribu ringgit itu pun tenggelam ke dasar laut.
Habislah kesemua barang-barang perniagaan yang mahal-mahal terbenam
ke laut. Para penumpang tidak tahu apa yang hendak dibuat, mereka
berdiri di atas air sambil melihat kapal yang tenggelam itu.
Salah seorang daripada peniaga itu berkata lagi, "Siapakah kamu wahai wali Allah?"
Wali Allah itu berkata, "Saya adalah Awais Al-Qarni."
Peniaga itu berkata lagi, "Wahai wali Allah, sesungguhnya di dalam
kapal yang tenggelam itu terdapat harta fakir-miskin Madinah yang
dihantar oleh seorang jutawan Mesir."
WaliAllah berkata, "Sekiranya Allah kembalikan semua harta kamu,
adakah kamu betul-betul akan membahagikannya kepada orang-orang miskin
di Madinah?"
Peniaga itu berkata, "Betul, saya tidak akan menipu, ya wali Allah."
Setelah wali itu mendengar pengakuan dari peniaga itu, maka dia pun
mengerjakan solat dua rakaat di atas air, kemudian dia memohon kepada
Allah S.W.T agar kapal itu ditimbulkan semula bersama-sama hartanya.
Tidak berapa lama kemudian, kapal itu timbul sedikit demi sedikit
sehingga terapung di atas air. Kesemua barang perniagaan dan lain-lain
tetap seperti asal. Tiada yang kurang.
Setelah itu dinaikkan kesemua penumpang ke atas kapal itu dan
meneruskan pelayaran ke tempat yang dituju. Apabila sampai di Madinah,
peniaga yang berjanji dengan wali Allah itu terus menunaikan janjinya
dengan membahagi-bahagikan harta kepada semua fakir miskin di Madinah
sehingga tiada seorang pun yang tertinggal. Wallahu a�alam.
Minggu, 01 Juli 2012
Gambar Keren (Tipuan Mata)
1. Apakah ini adalah gambar kapal laut atau pilar?



2. Apakah mereka adalah penonton atau gedung?

3. Berapa banyak kuda yang bisa anda temukan? Jika mata anda cukup tajam, anda seharusnya menemukan 7.

4. Berapa banyak orang dalam gambar ini?

5. Cincin yang mustahil

6. Karpet hidup

7. Air terjun atau manusia terjun?

8. Ada lima ekor rusa yang bersembunyi di hutan… Bisakah anda menemukannya?

9. Berapa pilar yang ada, tiga atau dua????????? Perhatikan pilar tengah. Dimanakah ujungnya?

10. Bisakah anda menemukan empat orang dalam gambar?

11. Siapakah yang tertinggi? Percaya atau tidak, ketiganya sama tinggi!

12. Sebuah wajah? … atau sebuah kata ‘liar’?

13. Apa yang anda lihat? Bisakah anda melihat kata “LIFT”? Atau hanya sebuah gambar kotak-kotak hitam tanpa makna?

14. Temukanlah wajah-wajah dalam gambar ini:
Ada sebelas wajah dalam gambar. Bisakah anda menemukan semuanya?
Orang normal akan menemukan empat atau lima.
Jika anda menemukan 8, anda memiliki tingkat ketelitian lebih dari orang normal.
Jika anda menemukan 9, anda memiliki tingkat ketelitian diatas rata-rata.
Jika anda menemukan 10, anda sangat teliti.
Jika anda menemukan 11, anda luar biasa teliti!
Orang normal akan menemukan empat atau lima.
Jika anda menemukan 8, anda memiliki tingkat ketelitian lebih dari orang normal.
Jika anda menemukan 9, anda memiliki tingkat ketelitian diatas rata-rata.
Jika anda menemukan 10, anda sangat teliti.
Jika anda menemukan 11, anda luar biasa teliti!

15. Fokuskan pandangan mata anda pada titik di tengah lingkaran, lalu gerakkan kepala anda maju mundur. Aneh, bukan?

16. Coba perhatikan gambar di bawah ini. Apakah panjang ketiga garis itu berbeda? Semua itu ternyata hanya ilusi mata.

17. Coba lihat dari dekat gambar ini, dan ingat
gambar tersebut, lalu coba berdiri dari komputer dan mundur 3-4 langkah,
lihat kembali gambar tersebut.. aneh ya?!


18. Gambarnya berdenyut-denyut.

19. Berapa titik hitamnya?

20. Ada tangga melayang?

21. Spiral? Anda pasti mengira gambar ini adalah
gambar spiral, ups.. tunggu dulu coba jari anda menelusuri salah satu
garis melingkar, nah apakah anda masih bersikeras mengatakan gambar ini
adalah gambar spiral?

22. Apa yang anda lihat ? Apakah gambar kelihatan
berputar?? Mata anda benar-benar tidak jujur, karena gambar ini
sebenarnya diam. Kalau tidak percaya perhatikan dengan fokus salah satu
lingkaran saja, apakah berputar?

23. Garis-garis horizontalnya mencong-mencong……………. Coba teliti lagi..!

24. Bergerakkah gambar ini?


Jumat, 29 Juni 2012
RELA DIMASUKKAN KE DALAM NERAKA
Nabi Musa AS suatu hari sedang berjalan-jalan melihat keadaan umatnya. Nabi Musa
AS melihat seseorang sedang beribadah. Umur orang itu lebih dari 500 tahun. Orang itu
adalah seorang yang ahli ibadah. Nabi Musa AS kemudian menyapa dan mendekatinya.
Setelah berbicara sejenak ahli ibadah itu bertanya kepada Nabi Musa AS, Wahai Musa
AS aku telah beribadah kepada Allah SWT selama 350 tahun tanpa melakukan
perbuatan dosa. Di manakah Allah SWT akan meletakkanku di Syurga-Nya?.
Tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah. Nabi Musa AS mengabulkan
permintaan orang itu.
Nabi Musa AS kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar Allah SWT
memberitahukan kepadanya di mana umatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepadanya bahawa Aku
akan meletakkannya di dasar Neraka-Ku yang paling dalam". Nabi Musa AS
kemudian mengkhabarkan kepada orang tersebut apa yang telah difirmankan Allah
SWT kepadanya. Ahli ibadah itu terkejut. Dengan perasaan sedih ia beranjak dari
hadapan Nabi Musa AS. Malamnya ahli ibadah itu terus berfikir mengenai keadaan
dirinya. Ia juga mulai terfikir bagaimana dengan keadaan saudara-saudaranya,
temannya, dan orang lain yang mereka baru beribadah selama 200 tahun, 300 tahun,
dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya, di mana lagi tempat mereka kelak
di akhirat. Keesokan harinya ia menjumpai Nabi Musa AS kembali. Ia kemudian berkata
kepada Nabi Musa AS, "Wahai Musa AS, aku rela Allah SWT memasukkan aku ke
dalam Neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar
setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam Neraka maka jadikanlah tubuhku ini
sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu Neraka tertutup oleh tubuhku jadi tidak
akan ada seorang pun akan masuk ke dalamnya". Nabi Musa AS menyampaikan
permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan
oleh Nabi Musa AS maka Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah
kepada umatmu itu bahawa sekarang Aku akan menempatkannya di Syurgaku
yang paling tinggi".
PERMOHONAN SIKAYA DAN SIMISKIN
Nabi Musa a.s. memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur
mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya
dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang
menghadap Nabi Musa
a.s.. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh
berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa
a.s., "Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah
s.w.t. permohonanku ini agar Allah s.w.t.
menjadikan aku orang yang kaya." Nabi Musa a.s. tersenyum dan berkata kepada orang itu,
"Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah
s.w.t.". Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia
berkata,
"Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian
yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja"!. Akhirnya si miskin
itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu
kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa
a.s.. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata
kepada Nabi Musa
a.s., "Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah
s.w.t. permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku
itu." Nabi Musa a.s.pun tersenyum, lalu ia berkata, "Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada
Allah s.w.t.". "Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada
Allah s.w.t.?. Allah
s.w.t. telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. telinga yang dengannya aku dapat
mendengar. Allah s.w.t. telah
memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku
kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak
mensyukurinya", jawab si kaya itu. Akhirnya si kaya itu pun pulang ke
rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin
Allah s.w.t. tambah kekayaannya kerana ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah
miskin. Allah s.w.t. mengambil semua
kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua
kerana ia tidak mau bersyukur kepada Allah s.w.t.
GUNUNG MENANGIS TAKUT TERGOLONG BATU API NERAKA
Pada suatu hari Uqa'il bin Abi Thalib telah pergi bersama-sama dengan
Nabi Muhammad s.a.w.. Pada waktu
itu Uqa'il telah melihat berita ajaib yang menjadikan tetapi hatinya
tetap bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara tersebut.
Peristiwa pertama adalah, bahawa
Nabi Muhammad s.a.w. akan mendatangi hajat yakni mebuang air besar dan di hadapannya terdapat beberapa batang pohon. Maka
Baginda s.a.w. berkata kepada Uqa'il, "Hai Uqa'il teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katalah kepadanya, bahawa sesungguhnya
Rasulullah berkata; "Agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya, kerana sesungguhnya
Baginda akan mengambil air wuduk dan buang air besar."
Uqa'il pun keluar dan pergi mendapatkan pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi di sekitar Baginda s.a.w. selesai dari hajatnya. Maka Uqa'il kembali ke tempat pohon-pohon itu.
Uqa'il pun keluar dan pergi mendapatkan pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi di sekitar Baginda s.a.w. selesai dari hajatnya. Maka Uqa'il kembali ke tempat pohon-pohon itu.
Peristiwa kedua adalah, bahawa Uqa'il berasa haus dan setelah mencari air ke mana pun jua namun tidak ditemui. Maka
Baginda s.a.w. berkata kepada Uqa'il
bin Abi Thalib, "Hai Uqa'il, dakilah gunung itu, dan sampaikanlah
salamku kepadanya serta katakan, "Jika padamu ada air, berilah aku
minum!"
Uqa'il lalu pergilah mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan Baginda s.a.w. itu. Maka sebelum ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya, "Katakanlah kepada Rasulullah, bahawa aku sejak Allah s.w.t. menurunkan ayat yang bermaksud : ("Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (seksa) api neraka yang umpannya dari manusia dan batu)." "Aku menangis dari sebab takut kalau aku menjadi batu itu maka tidak ada lagi air padaku."
Peristiwa yang ketiga ialah, bahawa ketika Uqa'il sedang berjalan dengan Nabi Muhammad s.a.w., tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan Rasulullah s.a.w., maka unta itu lalu berkata, "Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu." Unta masih belum selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus. Melihat orang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus, Nabi Muhammad s.a.w. berkata, "Hendak apakah kamu terhadap unta itu ?"
Jawab orang kampungan itu, "Wahai Rasulullah, aku telah membelinya dengan harta yang mahal, tetapi dia tidak mahu taat atau tidak mau jinak, maka akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya (kuberikan kepada orang-orang yang memerlukan)." Nabi Muhammad s.a.w. bertanya, "Mengapa engkau menderhakai dia?" Jawab unta itu, "Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak menderhakainya dari satu pekerjaan, akan tetapi aku menderhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk. Kerana kabilah yang dia termasuk di dalam golongannya, sama tidur meninggalkan solat Isya'. Kalau sekiranya dia mahu berjanji kepada engkau akan mengerjakan solat Isay' itu, maka aku berjanji tidak akan menderhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah s.w.t. menurunkan seksa-Nya kepada mereka sedang aku berada di antara mereka."
Akhirnya Nabi Muhammad s.a.w. mengambil perjanjian orang Arab kampung itu, bahawa dia tidak akan meninggalkan solat Isya'. Dan Baginda Nabi Muhammad s.a.w. menyerahan unta itu kepadanya. Dan dia pun kembali kepada keluarganya.
Uqa'il lalu pergilah mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan Baginda s.a.w. itu. Maka sebelum ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya, "Katakanlah kepada Rasulullah, bahawa aku sejak Allah s.w.t. menurunkan ayat yang bermaksud : ("Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (seksa) api neraka yang umpannya dari manusia dan batu)." "Aku menangis dari sebab takut kalau aku menjadi batu itu maka tidak ada lagi air padaku."
Peristiwa yang ketiga ialah, bahawa ketika Uqa'il sedang berjalan dengan Nabi Muhammad s.a.w., tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan Rasulullah s.a.w., maka unta itu lalu berkata, "Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu." Unta masih belum selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus. Melihat orang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus, Nabi Muhammad s.a.w. berkata, "Hendak apakah kamu terhadap unta itu ?"
Jawab orang kampungan itu, "Wahai Rasulullah, aku telah membelinya dengan harta yang mahal, tetapi dia tidak mahu taat atau tidak mau jinak, maka akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya (kuberikan kepada orang-orang yang memerlukan)." Nabi Muhammad s.a.w. bertanya, "Mengapa engkau menderhakai dia?" Jawab unta itu, "Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak menderhakainya dari satu pekerjaan, akan tetapi aku menderhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk. Kerana kabilah yang dia termasuk di dalam golongannya, sama tidur meninggalkan solat Isya'. Kalau sekiranya dia mahu berjanji kepada engkau akan mengerjakan solat Isay' itu, maka aku berjanji tidak akan menderhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah s.w.t. menurunkan seksa-Nya kepada mereka sedang aku berada di antara mereka."
Akhirnya Nabi Muhammad s.a.w. mengambil perjanjian orang Arab kampung itu, bahawa dia tidak akan meninggalkan solat Isya'. Dan Baginda Nabi Muhammad s.a.w. menyerahan unta itu kepadanya. Dan dia pun kembali kepada keluarganya.
Langganan:
Postingan (Atom)